Rabu, 22 September 2010

Asal Mula Asap Gunung Canlaon

Pada zaman dahulu kala, jauh sebelum bangsa Spanyol mendatangi Pulau Negros, Filipina, tanah di sekitar Gunung Canlaon luar biasa suburnya. Warna hijau perkebunan tembakau membentang luas, melingkar seakan sengaja diciptakan untuk menjadi selimut bagi gunung yang indah itu. Masyarakat di sekitar gunung itu hidup dengan rukun dan bahagia. Mereka tidak kekurangan suatu apapun karena tanah tempat mereka hidup sudah menyediakan hampir segala hal. Sayur-mayur dan ternak dapat berkembang dengan baik di sekeliling mereka. Tanaman tembakau, sumber penghidupan utama mereka, selalu memberikan hasil yang melimpah sehingga masing-masing keluarga dapat memakmurkan dirinya. Mata air tak henti-hentinya menyembur, memberikan kehidupan bagi segala makhluk yang dilewatinya. Air itu sangat jernih sehingga siapa pun tidak akan dapat melihat raut wajahnya sendiri ketika memandang ke dalam parit. Mereka melihat langsung dasar sungai, melihat bumi, alam yang melahirkannya. Mereka melihat diri mereka yang sebenarnya.

Tanaman tembakau di sekitar gunung memang ditanam dan dirawat oleh masyarakat. Namun, sesungguhnya bukan usaha mereka yang membuat hasil panen mereka selalu melimpah. Nun jauh di atas gunung, hidup seorang laki-laki tua yang bernama Harisaboqued. Ia adalah kakek yang sakti dan baik hati. Tubuhnya kecil dan kurus, serta rambutnya putih panjang menjuntai ke bawah. Ketika menampakkan diri, ia terlihat seperti petani sederhana, bercaping dan berpakaian serba hitam. Dengan pipa kayu di mulutnya ia sering turun gunung menyapa para warga. Orang-orang sangat menghormatinya karena ia memiliki kekuatan gaib yang hebat. Horisaboqued hidup seorang diri di atas Gunung Canlaon dan hanya ditemani oleh beberapa liliput yang selalu siap sedia menuruti segala permintaannya. Liliput-liliput inilah yang menjaga dan merawat tanaman tembakau setiap hari, menjaganya dari hama, menyiraminya, dan memberinya pupuk. Mereka memang ditugaskan Horisaboqued untuk mengurusi seluruh perkebunan di sekitar gunung.

Masyarakat sadar akan ketergantungan mereka pada Horisaboqued dan sebab itu tidak seorang pun berani menentang segala perintah orang tua itu. Tentu saja, Horisaboqued yang baik hati tidak pernah memberikan perintah yang memberatkan mereka. Ia hanya pernah meminta satu hal saja, yang ia titahkan ketika hendak pergi untuk masa yang panjang, yaitu tidak boleh ada yang menanam tembakau melewati garis batas yang telah ia buat.

“Wahai wargaku, aku akan pergi lama. Aku tidak akan berada di sekitar kalian namun tidaklah perlu kalian kuatir setelah kepergianku. Tanaman tembakau akan tetap tumbuh subur sehingga hidup kalian akan senantiasa makmur. Satu saja permintaanku, wahai wargaku. Janganlah satu pun dari kalian menanam tembakau melewati garis batas yang telah kutentukan. Garis batas itu mengelilingi gunung di puncaknya. Wilayah itu harus selalu bersih dari tanaman karena aku nanti akan kembali dari sana. Apabila permintaanku ini tidak kalian penuhi, aku akan mengambil semua tembakau dan tidak akan membiarkan satu tanaman pun tumbuh di sekitar gunung sampai aku merokok habis semua tembakau itu,” kata Horisaboqued.

Para warga mengangguk dan seketika itu sang orang tua sakti menghilang diterpa angin. Tahun demi tahun lewat tanpa ada tanda-tanda Horisaboqued akan kembali. Pesan terakhirnya masih dipatuhi oleh semua warga kecuali beberapa orang yang sangat ingin menanam tembakau melewati garis batas. Orang-orang ini berpikir bahwa hasil yang mereka dapat pasti akan lebih banyak kalau saja wilayah itu mereka jadikan kebun. Mereka sudah melupakan Horisaboqued dan perintahnya.

“Horisaboqued tidak akan kembali. Sudah bertahun-tahun ia meninggalkan kita. Dan tentu kalian tahu, bahkan tanpa campur tangannya hasil yang kita dapat tetap melimpah. Kupikir peringatannya hanya tipu muslihat saja, supaya kita tidak lebih berkuasa dari dia,” ujar salah seorang dari mereka di hadapan para warga yang sengaja mereka kumpulkan di Balai Desa.

“Tanah di atas gunung itu sangat subur. Bayangkan kalau kita menanaminya, kita akan menjadi lebih makmur. Hidup kita akan lebih bahagia. Jangan takut, Horisaboqued tidak akan menghukum kita. Kalau pun dia kembali, kita bisa membayar para preman untuk membunuhnya,” imbuh salah seorang yang lain.

Banyak dari para warga terbujuk dan mulai berniat melanggar perintah Horisaboqued. Mereka tergiur hasil panen yang lebih banyak.

“Baiklah, salah satu dari kalian cobalah tanam tembakau di sana. Kalau tidak ada apa-apa, kami akan mengikuti kalian,” timpal salah satu warga.

Keesokan harinya, seorang warga mencoba menanam tembakau di tanah larangan dan seperti yang mereka pikir, tidak terjadi suatu apapun. Mengetahui hal ini, seluruh warga kemudian ikut menanam di sana. Mereka tertawa terbahak-bahak, melupakan perintah Horisaboqued yang bijak. Seluruh puncak gunung menjadi hijau ditanami tembakau. Masyarakat menari-nari dan berpesta setiap malam. Mereka tidak sabar akan hasil yang akan mereka dapat dan tidak lagi mempedulikan hal-hal selain itu. Setelah menjadi orang-orang gila harta, tentang bumi mereka lupa.

Sampai pada suatu hari, ketika para warga bersama-sama menyirami tanaman mereka, puncak gunung itu tiba-tiba meledak. Gunung itu mengeluarkan debu dan asap yang tebal. Dari dalam asap itulah sesosok kakek muncul. Horisaboqued telah kembali. Para warga ketakutan dan lari terbirit-birit sampai-sampai tidak berani menoleh kebelakang.

“Kalian telah melanggar perintahku,” suara Horisaboqued menggelegar. “Padahal kalian tahu apa akibatnya.”

“Ampuun! Ampuuun!” teriak warga sambil terus menjauh.

Asap terus mengepul dari puncak gunung dan menjalar ke bawah seakan mengejar orang-orang. Dalam sekejap, wilayah di sekitar gunung menjadi gelap karena sinar matahari tertutup asap.

“Baiklah, aku akan mengambil semua tembakau yang kalian tanam dan tidak akan sebatang tumbuhan pun hidup di gunung ini sampai tembakau itu habis terbakar di pipaku ini,” Horisaboqued menepati kata-katanya.

Beberapa saat kemudian, berangsur-angsur kepulan asap menghilang. Horisaboqued kembali ke dalam gunung beserta kepulan asap gelap itu. Ketika masyarakat menoleh ke arah perkebunan mereka di gunung, mereka menangis tersedu. Tak ada sebatang pun tersisa. Semua telah lenyap seiring hapusnya impian mereka akan harta yang melimpah. Mereka sadar, keserakahan telah membutakan mata dan hati mereka. Semua menyesali perbuatannya. Namun apa lacur, nasi telah menjadi bubur.

Hingga kini, Gunung Canlaon masih mengeluarkan asap, menandakan bahwa Horisaboqued belum selesai merokok semua tembakau yang telah diambilnya. Dan benar saja, tidak ada tembakau yang dapat tumbuh di sana. Ratusan tahun berlalu dan masyarakat sekitar gunung terus mengingat cerita ini ketika mereka memandang Gunung Canlaon yang terus mengepul.

***

Begitulah cerita tentang Horisaboqued dan Asal Mula Asap Gunung Canlaon. Dalam cerita ini terdapat nilai kearifan yang dapat diambil sebagai sebuah pelajaran yang sangat berharga. Warga sekitar gunung adalah orang-orang yang tamak dan tidak pernah puas akan harta. Namun pada akhirnya keserakahan mereka mendatangkan malapetaka. Ketamakan dapat membutakan mata dan hati manusia. Selain itu, melalui cerita ini, kita diajarkan untuk tidak berlebihan dalam memanfaatkan alam. Sesungguhnya semua ada batasnya dan manusia bijak akan benar-benar memahami hal ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar